Batas Waktu
Pengumpulan Paper
Minggu, 22 April 2018 - 23:55

Tema


Jumat, 28 April 2017 - 14:49

Transformasi Perbankan Syariah

Sejak mulai dikembangkan pada tahun 1992, perbankan syariah telah banyak mencatatkan kemajuan dan pencapaian. Kemajuan dan pencapaian ini terjadi dalam berbagai aspek, baik aspek kelembagaan dan infrastruktur penunjangnya seperti perangkat regulasi, kebijakan, dan sistem pengawasannya maupun aspek kesadaran dan literasi masyarakat terhadap layanan perbankan syariah. Per November 2017, aset perbankan syariah telah mencapai sekitar Rp411,98 triliun dengan pangsa pasar sebesar 5,60% dari total aset perbankan di Indonesia. Secara kelembagaan, kini perbankan syariah memiliki 13 Bank Umum Syariah (BUS), 21 Unit Usaha Syariah (UUS) dan 167 Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS). Meskipun sudah banyak pencapaian yang dihasilkan, perkembangan industri perbankan syariah saat ini cenderung stagnan. Pangsa pasar perbankan syariah di Indonesia masih tergolong rendah dan belum sesuai harapan jika dibandingkan dengan potensinya. Dengan demografi penduduk Muslim terbesar di dunia, seharusnya perbankan syariah di Indonesia dapat menjadi pilihan utama masyarakat.

Hal ini tidak terlepas dari berbagai macam isu strategis yang dihadapi dan berdampak terhadap pengembangan perbankan syariah. Isu-isu strategis yang dimaksud antara lain modal bank yang belum memadai, skala industri dan individual bank yang masih kecil, biaya dana yang mahal, pelayanan yang belum sesuai ekspektasi masyarakat, kuantitas dan SDM yang belum memadai, serta teknologi informasi (TI) yang belum mendukung. Selain itu, masih muncul persepsi di tengah masyarakat bahwa bank syariah masih belum benar-benar syariah atau bank syariah tidak ada bedanya dengan bank konvensional. Disrupsi digital dan serbuan teknologi finansial (tekfin/fintech) juga menjadi salah satu tantangan perbankan syariah terkini. Teknologi telah menjadi potent enabler yang mampu dimanfaatkan tekfin untuk mengambil alih sebagian pasar perbankan syariah dan juga menjangkau nasabah yang selama ini tidak dapat diakses oleh perbankan syariah. Ke depan, pemisahan (spin-off) juga menjadi isu strategis yang akan dihadapi perbankan syariah. Bank Umum Konvensional (BUK) yang memiliki UUS wajib melakukan pemisahan paling lambat pada tahun 2023. Dengan ukuran UUS yang masih relatif kecil, ini menjadi tantangan tersendiri bagi pengembangan perbankan syariah ke depannya. 

Dengan tantangan dan isu strategis yang semakin kompleks, mau tidak mau industri perbankan syariah harus segera berbenah agar dapat terus tumbuh dan bersaing. Perbankan syariah perlu bertransformasi secara menyeluruh dengan membenahi kelemahan sekaligus memperkuat fondasi organisasinya. Terkait hal tersebut, diperlukan riset yang mendukung implementasi transformasi perbankan syariah. Beberapa hal yang perlu untuk dikaji lebih dalam di antaranya adalah mengenai (i) keunikan produk dan layanan atau model bisnis perbankan syariah yang dapat menjadi pembeda dengan bank konvensional, (ii) meningkatkan pelayanan prima (service excellence) perbankan syariah agar dapat sesuai dengan ekspektasi nasabah dan masyarakat, (iii) menumbuhkan kesadaran akan tujuan maqashid syariah kepada manajemen dan pegawai perbankan syariah, (iv) penguatan prinsip syariah dalam operasional perbankan syariah sehingga tidak keluar dari koridor-koridor syariah, (v) pemanfaatan perkembangan teknologi informasi (digitalisasi, komputasi awan, data besar, dsb.) termasuk kemungkinan kolaborasi tekfin ke dalam operasional perbankan syariah, (vi) penguatan merek (branding) perbankan syariah sehingga mampu meningkatkan citra perbankan syariah, (vii) perumusan strategi pemasaran dan komunikasi perbankan syariah yang efektif, (viii) penciptaan target pasar baru bagi perbankan syariah yang selama ini belum/tidak dapat dijangkau oleh perbankan secara umum, (ix) inovasi-inovasi lain yang dapat menunjang pengembangan perbankan syariah.